[Bukan Gagal] Menapaki Tanah Tertinggi di Pulau Jawa | Part 3

...
Eng ing eng .... Sampai pada saatnya menuju puncak Mahameru. 

Gue.. setelah berpikir secara matang akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan gue sampai puncak Mahameru. Kenapa?? gue kedinginan paraaah dan udah ngerasa lemah banget nih badan. So? daripada gue makin bikin orang - orang susah, gue memutuskan untuk tidur di tenda setelah dibungkus oleh 4 sleeping bag, 2 jacket, 3 kaos kaki, 2 sarung tangan, 3 bergo. Jam 11 malam sampai subuh gue dirundung rasa takut, cemas dan haduhh sejuta rasa yang tak bisa di ceritakan. Iya gue sendirian di Kalimati, semuanya pada muncak, mungkin setelah lewat jam 5 pagi baru ada suara temen - temen yang gagal sampe puncak, dan sudah kembali ke tenda masing - masing. 

Berhubung matahari sudah mulai naik gue mulai keluar dari tenda. Masih berasa dingin banget, tapi harus gue lawan, gue beberes tenda, lalu mencoba menggerakan badan dengan masak. Nyiapin makanan buat temen - temen nantinya yang pada turun dari Puncak. Alhamdulillah, jam 9an mereka satu - satu mulai datang, seneng rasanya ngelihat muka - muka lelah bercampur haru mereka yang bisa menapakan kaki di tanah tertinggi Jawa. Gue hanya sedikit menelan ludah dan mencoba mengikhlaskan gak sampe puncak pada perjalanan gue kali itu. Mereka menyantap makanan gue dengan lahap. Gue bahagia. Selalin berbahagia juga bisa masak nasi sampe jadi :)).

Setelah istirahat, kita langsung beres - beres dan segera turun untuk ngecamp lagi di Ranu Kumbolo. Hari yang lelah tapi berusaha tetap kuat. Dalam perjalanan turun, gue ketemu sama temen Netri namanya. Hahaha, emang dasar, sesama pejalan pasti ketemu temennya di jalan, dan di tempat - tempat yang gak di duga hehehhe.

Turun dari tanjakan cinta itu susaaaaaaaaaah banget. Ngeriii merosot jatoh, ampuuun dehhh. Dan lagi - lagi terpisah dari Prima. Setelah mafril berusaha buat diriin tenda, gue masih kekeuh nyari Prima, dan akhirnya ketemu, geret tenda ke sebelah tendanya Prima, masak makan malam, minum yang hangat - hangat lalu bobok. Malam yang amat sangat lelah.

Kali ini gue setenda sama ka Yana, dan malam itu Ranu Kumbolo lebih dingin dari malam sebelumnya. Mengigil lagiii gueeeeeee paraaaaaaaaaah, aduh bener - bener fisik gue gak siap dan gak kuat dengan keadaan gunung seperti ituu. Emaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak......

Sudah saatnya kembali ke Jakarta. Demi mengejar kereta, kembali dari Ranu Pane, kita naik Tronton. Gue bener2 molor buat istirahat. Sesampainya di Pasar Tumpang, lanjut naik angkot untuk ke Stasiun Malang. Sampai di Stasiun Malang, gue jalan sendiri ke tempat ceker rica - rica. Enak lhooo cekernyaa. Sempet kenalan juga dengan sesama pejalan yang lagi makan juga disana. Temen - temen lainnya pada makan di nasi padang. Sudah siap semua, dan akhirnya kereta membawa kita kembali ke Jakarta ...

Jadi bukan gagal untu menapaki kaki di tanah tertinggi di Jawa, hanya saja saya tunda, sampai saatnya yang pas tiba.

-Cheers-

Comments

Popular posts from this blog

Surat Untuk Ibu - Di Surga

se-Suatu hari di Semarang

Manusia - manusia ber-EPOS full tank !